Mengenal Dunia Baru

April 28, 2007

Rumahku Syurgaku

Filed under: Uncategorized

Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Ayah dan Bunda berencana mengajakku pulang ke rumah ‘impian’ yang selama ini sudah sangat aku rindukan. "Kaya’ apa ya rumahku..?" begitu gumamku.

Tanpa terasa waktu sudah berjalan sepekan. Hari ini adalah hari terakhir yang ayah rencanakan untuk aku ‘transit’ di rumah nenek pasca kelahiranku. Rumah nenek memang tidak terlalu besar. Cukup sederhana dengan beberapa kamar yang juga ditata dengan ringan dan apa adanya. Meski tidak terlalu besar, rumah nenek cukup untuk menampung ke enam anggota keluarganya. Tujuh di tambah ayah dan jadi delapan ditambah aku. Rumah yang sederhana itu berhawa sejuk dan tenang.

Hari itu adalah hari Sabtu. Sejak pagi hari ayah sudah bergegas merapikan barang-barang dan pakaianku serta bunda, dan dikemasnya dalam beberapa tas besar. Beberapa bingkisan kado ayah masukkan kedalam tas tersendiri yang tidak kalah penuh. Aku berfikir… ayah dan bunda akan memberikan kejutan lagi buatku.

Sore hari setelah orang-orang turun dari masjid selesai menunaikan sholat Ashar. Ayah menghampiriku yang sedang berbaring ditemani bunda. Bunda juga sudah rapi dan wangi, demikian pula aku. Aku sudah didandani dengan lengkap dan cantik.

"Ayo berangkat sekarang, Salwa .." Suara ayah menghampiriku. Sambil mencium kening dan pipiku ayah menggendongku keluar kamar. Aku memandanginya "Duh, Ayah. Kita mau kemana ya?" begitu gumamku. Setelah semuanya beres, ayah dan bunda berpamitan dengan nenek dan kakek, tante Ratna, om Qodri, juga om Ma’il. Mereka juga mencubit dan mencium gemas pipiku seraya perlahan melepasku.

Ayah berangkat lebih dulu pakai Satria kesayangannya dengan mengangkut seabreg barang bawaan. Sedang aku dan bunda dengan ditemani Mbah dan nenek menggunakan kendaraan umum. Beberapa tetangga yang kebetulan berada diberanda rumahnya menyapaku ".. Salwa mau pulang ya, ko’ cepetan amat di tempat neneknya?"

Hanya sekitar 5 menit kendaraan yang kutumpangi menepi. Bunda mengajakku turun, mbah dan nenek mengikutinya dari belakang. Aku pun menyeberang jalan dengan hati-hati. Dari tepi jalan jantungku sudah berdegub kencang. Seraya terus berjalan aku melihat kiri dan kanan, hingga ayun langkah kaki bunda terasa kian melambat. Dan ayah sudah tiba duluan di tempat itu.

Kulihat bangunannya lumayan tinggi namun sangat sederhana. Warna dindingnya kombinasi hijau dan kuning pudar. Sementara kusen pintu jendelanya berwarna coklat tua dengan kacanya yang juga gelap. Lantai rumah berwarna putih susu, berukuran 30x30 cm dan terawat bersih. Tepat di bagian depan terdapat pilar setinggi kira-kira 1 meter berhias beberapa tanaman hijau dalam pot-pot plastik berwarna coklat. Aku tertegun .."apakah ini istanaku?" 

"Selamat datang Salwa…, ini adalah rumah Salwa. Ayo silahkan masuk." Suara ayah memecah ketertegunanku. Bola mataku memancar jeli dan riang. Riuh suara Bunda, mbah dan nenek juga mengiringi moment penting aku memasuki rumah yang didominasi warna hijau ini. Ayah mengajakku masuk, bersama bunda aku menelusuri seluruh sudut ruangan rumah mungil tersebut hingga kamar mandi dan dapur. Rumahnya bersih dan tertata rapi meski dengan segala kesederhanaannya.

"Rumah ini menyejukan," dan aku senang sekali. Aku sudah membayangkan.. pasti akan banyak sejarah dan cerita indah terlahir dari tempat yang baik ini. "Semoga rumah ini akan menjadi seindah istana di syurga"… amiin. 

April 22, 2007

Keluarga yang Hangat

Filed under: Uncategorized
Ini duniaku yang baru, bagiku sungguh luar biasa. Rasa rinduku yang membuncah saat detik-detik terakhir transformasi kehidupanku kini mulai terjawab. Tidak hanya ayah dan bunda saja yang kutemui, namun lebih dari itu banyak orang yang bersyukur menyambut kehadiranku.
 
Siang ini pun, aku sudah ketemu kakek dan nenek. Ada juga tante Ratna yang cakep, om Qodri yang item manis, juga ada om Ma’il yang super cool. Aktivitas kakek saat ini lebih banyak di rumah, selain beliau memang sudah melewati usia pensiun, kakek juga diberi kepercayaan oleh warga menjadi Ketua RT. Sedangkan nenek, orangnya kreatif dan enerjik. Nenek suka bikin makanan enak untuk dijual dipasar. 
 
Nah, kalo tante Ratna, orangnya rajin baik dan cantik kaya’ bunda. Namanya aja kaka’-adek, ya ada mirip-mirip dikit lah. Seminggu sebelum aku lahir, tante Ratna wisudaan jadi Sarjana. Ciee… Salwa ucapin selamat yach. Aku sempet ikut dateng bareng bunda ke acara wisudanya. Cuma aku masih sembunyi di perut bunda. Terus…, om Ma’il. Sekarang dia bekerja menjadi abdi masyarakat di Jakarta. Profesinya sebagai ‘fire-man’, atau petugas pemadam kebakaran. Posturnya yang jangkung cocok banget buat tugas nyemprot api yang sering kali membumbung tinggi. Yang terakhir adalah om Qodri. Karena suka maen futsal dan layang-layang makanya mukanya jadi item gosong. Om Qodri juga jago di sekolah, dia rutin nyabet juara 1 di kelasnya. Moga aja Salwa ntar kalo sudah sekolah juga jadi juara. Doa’in ya..
 
Pokoknya siang itu siang yang surprise, semuanya sibuk berkenalan wajah denganku. Aku mencoba menghafalnya. Apalagi aku adalah cucu’ pertama dari nenek sekaligus keponakan pertama yang ada dirumah itu. Bahkan aku adalah cicit pertama dari mbah uyut aku yang ada di bogor. Seneng banget rasanya jadi orang yang spesial. emoticon
 
Ternyata kejutannya belum selesai, menjelang sore hari, mbah juga tiba. Mbah baru dateng dari Cilegon. Sebetulnya mbah sudah nemenin bunda nungguni aku sejak setengah bulan sebelum kelahiranku. Gara-gara aku ga ‘nongol-nongol’ embah nyempetin maen ke rumah ua, kaka’nya ayah, di Cilegon. Oiya, kalo sama orang tua bunda aku panggilnya kakek ma nenek, sedang kalo sama ibunya ayah aku panggilnya mbah. Sayangnya ayahnya ayah sudah meninggal sejak ayah masih kecil. Jadi aku cuma punya Mbah Putri karena Mbah Kakung-nya sudah tiada.
 
Mbah tiba pukul 3 sore-an. Begitu sampe rumah nenek, Mbah putri langsung nyerbu dan menciumi aku. Mbah pasti bahagia banget sebagaimana bahagianya aku. Dan sama seperti statusku dikeluarga nenek, buat mbah aku adalah cucu pertama yang sudah sangat lama ditunggu-tunggu.
 
Semoga dunia baruku adalah dunia-dunia yang indah dan membahagiakan. Dunia yang menjadi jalan pertemuan dengan Dzat yang pasti lebih aku rindukan di atas segalanya. Dzat yang menciptakanku dan memberiku kehidupan. 

Rumah Nenek

Filed under: Uncategorized
Ayah kulihat sibuk mondar-mandir mengurus adminsitrasi dan pembayaran perawatan bunda dan aku. Ternyata hari ini hari terakhir aku dirawat di RS. Sari Asih, tempat yang paling bersejarah dalam perjalanan hidupku. Berarti, hari ini adalah hari perpisahanku dengan lingkungan yang pertama kali aku kenal. Ada sedikit rasa sedih berpisah dengan suster-suster yang selalu sabar merawat aku. Aku pasti kangen mereka. Tapi entah apakah suatu saat aku bisa bertemu mereka lagi, dan kalaupun ketemu juga mungkin mereka sudah tidak mengenalku lagi.
 
Aku juga harus berpisah dengan teman-temanku yang sudah 4 hari ini bersamaku, biar pun mereka suka nyebelin karena cengeng, namun mereka adalah kawan tinggalku yang membuat aku tidak kesepian selama di rumah sakit ini. Tau dech, apa ntar bisa saling kenal ya? Hari ini mestinya ada kawanku yang pulang bersamaan dengan jadwal kepulanganku. Namun, karena ada perawatan tambahan dia harus menunda kepulangannya. Dokter bilang dia kekurangan oksigen sehingga harus kembali dikasih oksigen dan masuk ruang inkubator. Oiya, orangtuanya bernama ko’ Indra dan ci Eel. Pasangan chinesse yang menjadi temen ayahku selama ada di rumah sakit ini. Mereka bertemu akrap saat menunggu bunda di operasi. Kebetulan operasi bunda dilakukan sesaat setelah ci Eel dioperasi untuk anak keduanya, caessar juga.
 
Selama menunggu keduanya sharing pengalaman, tepatnya sih ayah yang banyak belajar darinya, sehingga ayah dan ko’ Indra tampak sudah seperti kawan lama. Ko’ Indra juga tidak segan-segan kasih saran dan tukar pengalaman ke ayah untuk menjadi ayah siaga (tentu versi orang China..he..he..). Iya, sampai aku hendak dianter suster ke lobi utama rumah sakit ko’ Indra masih pusing bolak-balik ngurusin anaknya. Semoga cepet baikan dech. Biar sama-sama bisa cepet pulang. Aku senang, meski etnis Ayah dan ko Indra tidak sama, tapi mereka sangat akrab.
 
Suster sudah mengganti bajuku dengan baju spesial yang telah ayah siapkan dari rumah. Baju bayi pertamaku yang aku pake’. Bagus banget, apalagi ada selimut cantik yang turut membungkusku. Bunda dan nenek sudah stand by bersamaku berjalan menuju lobi utama. Sementara ayah sudah duluan menyiapkan kendaraan.
 
Mataku memandang lurus menembus kaca lobi utama. Terang dan penuh hiruk pikuk. Benda aneh berseliweran dari arah yang saling berlawanan. Ada yang berwarna perak, merah, hijau putih, juga hitam. Orang juga berlalu lalang dengan beragam kesibukan dan kepentingan. Semuanya nampak sibuk sesibuk suster-suster yang ada di rumah sakit ini.
 
Wajah ayah yang ganteng menyunggingkan senyum dari balik pintu kaca. Ternyata ayah membawakan untukku satu dari benda aneh yang sedari tadi kulihat berseliweran. Mmm, ini namanya mobil. Dalam gendongan nenek aku memasukinya dengan perlahan. Bunda menyusul tidak lama kemudian, sedang ayah masih sibuk memasukkan barang-barang bunda dan aku kedalam bagasi mobil.
 
Setelah semuanya siap, perlahan kendaraan itu mulai berjalan. Aku takjub. Bangunan tinggi, keramaian, hilir mudik kendaraan, lalu lalang orang dengan berbagai kesibukan aku lihat selama perjalanan. Setelah kira-kira seperempat jam, sampailah disebuah tempat yang mungil. Ada kakek, tante Ratna, om Qodri, dan beberapa tetangga sudah bersiap menyambut aku. Mereka semua berhamburan menyergapku dengan wajah yang sumringah. Semuanya tampak gembira menyambut kedatanganku. Alhamdulillah…, aku jadi bahagia. Ternyata dunia yang aku takutkan ini tidak seperti bayanganku sebelumnya. Semoga.

April 18, 2007

Dunia, Aku Datang!

Filed under: Uncategorized

Aku coba menerawang, memandang ke langit-langit ruangan. Berusaha memahami apa yang saat ini aku lihat. Jauh berbeda rasanya saat beberapa waktu sebelumnya aku berada di rahim bunda. Ruang dimensi yang begitu luas jika dibandingkan dengan ruang rahim bunda yang hanya cukup untuk ukuran tubuhku, itu pun aku harus menekukkan kaki dan tanganku yang mungil.

Dunia baru ini memang sangat berbeda, jauh lebih luas, jauh lebih kompleks, jauh lebih ramai, jauh lebih seru (mungkin?) atau juga mungkin jauh lebih menyeramkan. Aku masih menerawang memandang langit-langit ruangan. Sementara di luar ruangan tempat aku berbaring hilir mudik terdengar langkah sepatu ber-hak tinggi yang cukup nyaring. Ah, mungkin itu suara langkah kaki suster yang merawatku.

Cahaya di balik jendela sudah mulai berubah menguning kemerahan. Barangkali ini yang dinamakan senja hari. Suara langkah kaki di sebelah luar ruangan terasa semakin ramai. Banyak suara bersahut-sahutan, saling menimpali dan kadang terdengar gelak tawa dan senyum simpul. Aku mengalihkan pandanganku dari langit-langit ke jendela kaca yang memisahkan ruanganku dan lobi ruang perawatan bunda. Kulihat banyak wajah-wajah yang selalu berbeda bergantian menampakkan diri di balik kaca. Mereka melihat ke arahku dan sekelilingku yang semuanya masih seusiaku.

Aku terhenyak, di sekelilingku berjajar rapi bayi-bayi mungil yang lucu (pastinya aku juga donk..he..he..). Meski aku dan mereka dilahirkan dihari yang sama atau setidaknya di hari yang tak terpaut jauh, tak satupun yang memiliki kemiripan satu sama lain. Dari rupanya, raut wajah, kulitnya, rambutnya, berat badannya, duh hampir semuanya berbeda. Sama persis dengan wajah-wajah yang nampak dibalik kaca jendela, tidak ada yang sama.

Sayup-sayup terdengar lantunan merdu yang dini hari tadi kudengar dari mulut ayah. Kalimatnya sama, dan sama indahnya. Kalimat yang kutahu sebagai seruan panggilan untuk segera melaksanakan sholat. Beberapa langkah kudengar melangkah searah, sepertinya mendekati mushola.

Mataku berkedip, dan kembali menerawang ke langit-langit ruangan. Bagiku dunia baru yang ada di depan mataku penuh dengan warna, misteri, kesempatan dan ujian. Perasaanku gamang. Apakah aku bisa menjalani kehidupan baruku ini ya? Sepertinya.. ko’ menyeramkan? Ah, biarlah. Apapun kenyataannya aku harus berani melangkah.Ada ayah dan bunda ini. Aku yakin, mereka pasti akan mendampingiku sepenuh hati untuk aku belajar mengenal dunia ini.

Aku melirik ke kanan dan ke kiri, teman-temanku sudah mulai rewel. Suster yang setengah jam yang lalu sudah berada diruangan mulai sibuk dengan ulah temen-temen yang bertambah aneh. Pipis, ee’ dan nangis melengking. Ah, sebaiknya aku bobo’ biar ntar fresh, karena sebentar lagi aku pasti mau dianter ke tempat ruang perawatan bunda, dan disana pasti ada ayah. Saat yang menyenangkan. Emmh, met bobo’ ya.