Dunia, Aku Datang!
Aku coba menerawang, memandang ke langit-langit ruangan. Berusaha memahami apa yang saat ini aku lihat. Jauh berbeda rasanya saat beberapa waktu sebelumnya aku berada di rahim bunda. Ruang dimensi yang begitu luas jika dibandingkan dengan ruang rahim bunda yang hanya cukup untuk ukuran tubuhku, itu pun aku harus menekukkan kaki dan tanganku yang mungil.
Dunia baru ini memang sangat berbeda, jauh lebih luas, jauh lebih kompleks, jauh lebih ramai, jauh lebih seru (mungkin?) atau juga mungkin jauh lebih menyeramkan. Aku masih menerawang memandang langit-langit ruangan. Sementara di luar ruangan tempat aku berbaring hilir mudik terdengar langkah sepatu ber-hak tinggi yang cukup nyaring. Ah, mungkin itu suara langkah kaki suster yang merawatku.
Cahaya di balik jendela sudah mulai berubah menguning kemerahan. Barangkali ini yang dinamakan senja hari. Suara langkah kaki di sebelah luar ruangan terasa semakin ramai. Banyak suara bersahut-sahutan, saling menimpali dan kadang terdengar gelak tawa dan senyum simpul. Aku mengalihkan pandanganku dari langit-langit ke jendela kaca yang memisahkan ruanganku dan lobi ruang perawatan bunda. Kulihat banyak wajah-wajah yang selalu berbeda bergantian menampakkan diri di balik kaca. Mereka melihat ke arahku dan sekelilingku yang semuanya masih seusiaku.
Aku terhenyak, di sekelilingku berjajar rapi bayi-bayi mungil yang lucu (pastinya aku juga donk..he..he..). Meski aku dan mereka dilahirkan dihari yang sama atau setidaknya di hari yang tak terpaut jauh, tak satupun yang memiliki kemiripan satu sama lain. Dari rupanya, raut wajah, kulitnya, rambutnya, berat badannya, duh hampir semuanya berbeda. Sama persis dengan wajah-wajah yang nampak dibalik kaca jendela, tidak ada yang sama.
Sayup-sayup terdengar lantunan merdu yang dini hari tadi kudengar dari mulut ayah. Kalimatnya sama, dan sama indahnya. Kalimat yang kutahu sebagai seruan panggilan untuk segera melaksanakan sholat. Beberapa langkah kudengar melangkah searah, sepertinya mendekati mushola.
Mataku berkedip, dan kembali menerawang ke langit-langit ruangan. Bagiku dunia baru yang ada di depan mataku penuh dengan warna, misteri, kesempatan dan ujian. Perasaanku gamang. Apakah aku bisa menjalani kehidupan baruku ini ya? Sepertinya.. ko’ menyeramkan? Ah, biarlah. Apapun kenyataannya aku harus berani melangkah.Ada ayah dan bunda ini. Aku yakin, mereka pasti akan mendampingiku sepenuh hati untuk aku belajar mengenal dunia ini.
Aku melirik ke kanan dan ke kiri, teman-temanku sudah mulai rewel. Suster yang setengah jam yang lalu sudah berada diruangan mulai sibuk dengan ulah temen-temen yang bertambah aneh. Pipis, ee’ dan nangis melengking. Ah, sebaiknya aku bobo’ biar ntar fresh, karena sebentar lagi aku pasti mau dianter ke tempat ruang perawatan bunda, dan disana pasti ada ayah. Saat yang menyenangkan. Emmh, met bobo’ ya.

