May 14, 2007
May 1, 2007
Rumahku Mengasyikkan
Berbeda dengan rumah nenek yang lumayan rame karena penghuninya ‘cukup padat’. Rumahku lengang dan tenang. Jika di rumah nenek ada kakek, tante Ratna, om Ma’il dan om Qodri, maka di rumah mungil ini hanya ada Bunda dan Ayah. Keadaan ini membuat tidurku semakin nyaman, hi..hi..hi. Namun demikian, tantangan buatku adalah untuk bersabar melawan kebisingan yang berasal dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Sebab, rumahku persis berhadapan dengan jalan utama yang memasuki kawasan perumahan ini.
Rumah sering kali bertambah sepi kalau ayah harus pergi memenuhi panggilan amanah. Sehingga praktis hanya aku dan Bunda saja di rumah. Aku ngga’ bersedih, karena justru membuatku semakin banyak waktu buat bermanja-manja dengan Bunda. Di samping itu, juga membuat aku merasa bahagia sekali saat-saat melihat kepulangan ayah. Yaah, kupikir ini adalah seni kehidupan yang akan membuatku belajar tentang kemandirian dan ketegaran.
Biarpun rumahku mungil, namun terasa mengasyikkan. Cukup lengkap untuk kebutuhan sehari-hari baik buat ayah-bunda ataupun buatku. Insya Allah aku bersyukur. Di rumah ini aku juga menjadi punya lebih banyak waktu buat bermain dengan ayah. Setiap pagi ayah mengajakku menikmati udara dan sinar matahari pagi. Aku berjemur.. (he..he.., kaya orang kulon aja yach). Teman ayah bilang, berjemur itu akan membuat aku sehat. Soalnya dengan bantuan sinar ultraviolet dari matahari, zat-zat beracun dipermukaan kulit akan teroksidasi dan akhirnya akan keluar bersamaan dengan keluarnya keringat. Makanya aku rajin berjemur. Gitu loh.
Biasanya setelah berjemur dan kulit-kulitku sudah terasa hangat, Bunda mengajakku untuk mandi air hangat. Aku disabuni, pake sampo, dan direndam dalam bak mandi biru yang nyaman. Ayah pun tak ketinggalan untuk membantu bunda memandikanku. Sehingga acara mandi pagiku menjadi momen yang meriah dan menyenangkan.
Bertiga bersama Ayah dan Bunda pasti akan menjadi masa awal episode perjalanan hidupku yang menyenangkan. Semoga Allah menjaga kebersamaan ini dengan kasih dan ridho-Nya. Amiin.
April 28, 2007
Rumahku Syurgaku
Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Ayah dan Bunda berencana mengajakku pulang ke rumah ‘impian’ yang selama ini sudah sangat aku rindukan. "Kaya’ apa ya rumahku..?" begitu gumamku.
Tanpa terasa waktu sudah berjalan sepekan. Hari ini adalah hari terakhir yang ayah rencanakan untuk aku ‘transit’ di rumah nenek pasca kelahiranku. Rumah nenek memang tidak terlalu besar. Cukup sederhana dengan beberapa kamar yang juga ditata dengan ringan dan apa adanya. Meski tidak terlalu besar, rumah nenek cukup untuk menampung ke enam anggota keluarganya. Tujuh di tambah ayah dan jadi delapan ditambah aku. Rumah yang sederhana itu berhawa sejuk dan tenang.
Hari itu adalah hari Sabtu. Sejak pagi hari ayah sudah bergegas merapikan barang-barang dan pakaianku serta bunda, dan dikemasnya dalam beberapa tas besar. Beberapa bingkisan kado ayah masukkan kedalam tas tersendiri yang tidak kalah penuh. Aku berfikir… ayah dan bunda akan memberikan kejutan lagi buatku.
Sore hari setelah orang-orang turun dari masjid selesai menunaikan sholat Ashar. Ayah menghampiriku yang sedang berbaring ditemani bunda. Bunda juga sudah rapi dan wangi, demikian pula aku. Aku sudah didandani dengan lengkap dan cantik.
"Ayo berangkat sekarang, Salwa .." Suara ayah menghampiriku. Sambil mencium kening dan pipiku ayah menggendongku keluar kamar. Aku memandanginya "Duh, Ayah. Kita mau kemana ya?" begitu gumamku. Setelah semuanya beres, ayah dan bunda berpamitan dengan nenek dan kakek, tante Ratna, om Qodri, juga om Ma’il. Mereka juga mencubit dan mencium gemas pipiku seraya perlahan melepasku.
Ayah berangkat lebih dulu pakai Satria kesayangannya dengan mengangkut seabreg barang bawaan. Sedang aku dan bunda dengan ditemani Mbah dan nenek menggunakan kendaraan umum. Beberapa tetangga yang kebetulan berada diberanda rumahnya menyapaku ".. Salwa mau pulang ya, ko’ cepetan amat di tempat neneknya?"
Hanya sekitar 5 menit kendaraan yang kutumpangi menepi. Bunda mengajakku turun, mbah dan nenek mengikutinya dari belakang. Aku pun menyeberang jalan dengan hati-hati. Dari tepi jalan jantungku sudah berdegub kencang. Seraya terus berjalan aku melihat kiri dan kanan, hingga ayun langkah kaki bunda terasa kian melambat. Dan ayah sudah tiba duluan di tempat itu.
Kulihat bangunannya lumayan tinggi namun sangat sederhana. Warna dindingnya kombinasi hijau dan kuning pudar. Sementara kusen pintu jendelanya berwarna coklat tua dengan kacanya yang juga gelap. Lantai rumah berwarna putih susu, berukuran 30x30 cm dan terawat bersih. Tepat di bagian depan terdapat pilar setinggi kira-kira 1 meter berhias beberapa tanaman hijau dalam pot-pot plastik berwarna coklat. Aku tertegun .."apakah ini istanaku?"
"Selamat datang Salwa…, ini adalah rumah Salwa. Ayo silahkan masuk." Suara ayah memecah ketertegunanku. Bola mataku memancar jeli dan riang. Riuh suara Bunda, mbah dan nenek juga mengiringi moment penting aku memasuki rumah yang didominasi warna hijau ini. Ayah mengajakku masuk, bersama bunda aku menelusuri seluruh sudut ruangan rumah mungil tersebut hingga kamar mandi dan dapur. Rumahnya bersih dan tertata rapi meski dengan segala kesederhanaannya.
"Rumah ini menyejukan," dan aku senang sekali. Aku sudah membayangkan.. pasti akan banyak sejarah dan cerita indah terlahir dari tempat yang baik ini. "Semoga rumah ini akan menjadi seindah istana di syurga"… amiin.
April 22, 2007
Keluarga yang Hangat

Rumah Nenek
April 18, 2007
Dunia, Aku Datang!
Aku coba menerawang, memandang ke langit-langit ruangan. Berusaha memahami apa yang saat ini aku lihat. Jauh berbeda rasanya saat beberapa waktu sebelumnya aku berada di rahim bunda. Ruang dimensi yang begitu luas jika dibandingkan dengan ruang rahim bunda yang hanya cukup untuk ukuran tubuhku, itu pun aku harus menekukkan kaki dan tanganku yang mungil.
Dunia baru ini memang sangat berbeda, jauh lebih luas, jauh lebih kompleks, jauh lebih ramai, jauh lebih seru (mungkin?) atau juga mungkin jauh lebih menyeramkan. Aku masih menerawang memandang langit-langit ruangan. Sementara di luar ruangan tempat aku berbaring hilir mudik terdengar langkah sepatu ber-hak tinggi yang cukup nyaring. Ah, mungkin itu suara langkah kaki suster yang merawatku.
Cahaya di balik jendela sudah mulai berubah menguning kemerahan. Barangkali ini yang dinamakan senja hari. Suara langkah kaki di sebelah luar ruangan terasa semakin ramai. Banyak suara bersahut-sahutan, saling menimpali dan kadang terdengar gelak tawa dan senyum simpul. Aku mengalihkan pandanganku dari langit-langit ke jendela kaca yang memisahkan ruanganku dan lobi ruang perawatan bunda. Kulihat banyak wajah-wajah yang selalu berbeda bergantian menampakkan diri di balik kaca. Mereka melihat ke arahku dan sekelilingku yang semuanya masih seusiaku.
Aku terhenyak, di sekelilingku berjajar rapi bayi-bayi mungil yang lucu (pastinya aku juga donk..he..he..). Meski aku dan mereka dilahirkan dihari yang sama atau setidaknya di hari yang tak terpaut jauh, tak satupun yang memiliki kemiripan satu sama lain. Dari rupanya, raut wajah, kulitnya, rambutnya, berat badannya, duh hampir semuanya berbeda. Sama persis dengan wajah-wajah yang nampak dibalik kaca jendela, tidak ada yang sama.
Sayup-sayup terdengar lantunan merdu yang dini hari tadi kudengar dari mulut ayah. Kalimatnya sama, dan sama indahnya. Kalimat yang kutahu sebagai seruan panggilan untuk segera melaksanakan sholat. Beberapa langkah kudengar melangkah searah, sepertinya mendekati mushola.
Mataku berkedip, dan kembali menerawang ke langit-langit ruangan. Bagiku dunia baru yang ada di depan mataku penuh dengan warna, misteri, kesempatan dan ujian. Perasaanku gamang. Apakah aku bisa menjalani kehidupan baruku ini ya? Sepertinya.. ko’ menyeramkan? Ah, biarlah. Apapun kenyataannya aku harus berani melangkah.Ada ayah dan bunda ini. Aku yakin, mereka pasti akan mendampingiku sepenuh hati untuk aku belajar mengenal dunia ini.
Aku melirik ke kanan dan ke kiri, teman-temanku sudah mulai rewel. Suster yang setengah jam yang lalu sudah berada diruangan mulai sibuk dengan ulah temen-temen yang bertambah aneh. Pipis, ee’ dan nangis melengking. Ah, sebaiknya aku bobo’ biar ntar fresh, karena sebentar lagi aku pasti mau dianter ke tempat ruang perawatan bunda, dan disana pasti ada ayah. Saat yang menyenangkan. Emmh, met bobo’ ya.

