<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Mengenal Dunia Baru</title>
	<link>http://sduniabaru.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Fri, 20 Jul 2007 08:05:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Ayah yang Sibuk</title>
		<link>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/05/14/ayah-yang-sibuk/</link>
		<comments>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/05/14/ayah-yang-sibuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2007 07:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/05/14/ayah-yang-sibuk/</guid>
		<description><![CDATA[	Kalo aku mengamati Ayah, duh rasanya ko ngga&#8217; ada cape&#8217;nya ya. Ayah Salwa tu penuh dengan seabreg aktivitas. Makanya aku harus rela jika mesti sering ditinggal ayah. Kulihat bunda sudah sangat mengerti rutinitas dan kesibukan Ayah, sehingga meski sering ditinggal pergi Bunda tidak pernah protes apalagi ngambek. Bunda sudah memahami kesibukan ayah.
	&nbsp;
	Aku mau berbagi cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify">Kalo aku mengamati Ayah, duh rasanya ko ngga&#8217; ada cape&#8217;nya ya. Ayah Salwa tu penuh dengan seabreg aktivitas. Makanya aku harus rela jika mesti sering ditinggal ayah. Kulihat bunda sudah sangat mengerti rutinitas dan kesibukan Ayah, sehingga meski sering ditinggal pergi Bunda tidak pernah protes apalagi ngambek. Bunda sudah memahami kesibukan ayah.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Aku mau berbagi cerita tentang kegiatan ayah yang ngga&#8217; ada habis-habisnya buat teman-teman. Setau aku ni ya, disamping pekerjaan rutin ayah mencari nafkah yang digelutinya setiap pagi dari jam 07.00 sampai jam 18.00 dari Senin sampai Jum&#8217;at, aktivitas lain ayah kurang lebihnya seperti ini;</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Setiap malam senin, ayah mengisi acara kajian rutin dirumah. Biasanya teman-teman ayah yang berdatangan kerumah. Jumlahnya sekitar 10 orang. Aku suka nguping kalo ayah dan teman-temannya sedang asyik dalam acara kajian tersebut. Materi yang ayah sampaikan biasanya berupa materi-materi ke-Islaman dan da&#8217;wah. Ayah suka memberi motivasi dan sesekali nasehat buat yang hadir. Acara kajian tersebut selesai pukul 22.30-an. Kadang selama ayah dan teman-temannya ngaji, aku tidur. Dan mendekati jam setengah sebelas aku bangun. Jadi aku pun bisa sebentar bermain-main dengan ayah sebelum aku bobo&#8217; lagi. Kalo pun acara sudah selesai dan teman-teman ayah sudah pulang, ayahku yang ganteng ini ngga&#8217; langsung tidur. Ayah suka mengerjakan sesuatu dilaptop thasiba yang dibelinya beberapa bulan lalu. Baru mendekati tengah malam ayah istirahat.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Sedangkan kalo hari Senin sore, ayah pasti ada rapat GreatLine dirumah. Jam 18.30 sampai dengan jam 20.00 adalah jadwal rutin yang jarang terlewatkan. Teman-teman ayah juga berdatangan karena rapat pekanan itu juga dirumahku. Aku ikut senang karena aku jadi ngga&#8217; kesepian, kan dari pagi cuma sama bunda doank. Apalagi pasti ada kue yang enak (he..he.. kan aku masih makan ASI doank). Setelah selesai, ayah bersiap-siap untuk pergi lagi. Bunda bilang sih ayah berlatih nasyid (suit..suit, he..he..). Iya, ayahku kan salah seorang lead vokal grup nasyid &#8216;kenamaan&#8217; di Kota Tangerang. Namanya grup nasyid ASASI. Dan yang lebih membuatku salut ayahku yang &#8217;sok&#8217; sibuk ini, seluruh nasyid punya Asasi yang ciptain itu ayah. Tau dech, kok ayah bisa ya. kapan bikinnya?? Ayah pulang sekitar jam 22.30. Aku pun bangun menyambut kepulangan ayah meski hanya dengan membuka mata. Biasanya gara-gara suara Satria ayah yang berisik (hi..hi..). Sepulang dari latihan ayah pun tidak langsung tidur, ayah membuka laptop dan asyik mengerjakan sesuatu. Kata ayah sih karena sempetnya malam ya ngerjain tugas-tugas dakwahnya malam-malam itu.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Nah kalo Selasa malam Rabu, ayah pulang paling larut. Tak jarang sampai rumah sudah lewat tengah malam. Kadang jam 12 malam, jam 00.30 bahkan pernah juga jam 1 malam. Tiap malam Rabu ini ayah mengaji. Berangkat jam 20-an dengan membawa tas hitam yang agak tebal. Kalo malam Rabu begini biasanya aku ngga sempet nunggu ayah pulang. Aku dah bobo&#8217; dech.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Hampir setiap malam Kamis, rumah juga dipakai ayah buat rapat. Temen-temen ayah di Biro Thulabi DPD suka datang untuk membahas masalah-masalah da&#8217;wah. Waktunya juga ngga&#8217; kalah malam, jam 23.00 baru selesai. Sedangkan kalo malam Jum&#8217;at adalah waktu ayah yang relatif kosong. Ayah sering menyempatkan untuk mengajak ku dan Bunda jalan-jalan, meski kadang ke rumah nenek aja. Tapi aku seneng, soalnya bisa bareng ayah bunda semalaman. Namun demikian, kadang juga ada tugas-tugas mendadak yang mengharuskan ayah pergi. Tapi&nbsp; 1:3 lah dalam sebulan.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Kalo malam Sabtu, seringnya ayah ada rapat BPK DPD atau GTDK. Tempatnya ngga&#8217; pernah dirumahku. Tapi kaya&#8217;nya sih jauh-jauh. Kadang suka kasian apalagi kalo hujan deras. Duh ayah nih, biar hujan juga berangkat. Soal kapan pulang&#8230;? Jangan tanya dech. Pulang juga suka larut malam. Kadang jam 12 kadang jam setengah satu malam. Tapi seringnya cuma dua minggu sekali kalo pulang larut.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Nah, kalo hari Sabtu ayah libur kerjanya. Jadi ayah ngga&#8217; ke kantor. Kalo pagi Sabtu, ayah kalo sempet suka nyuci Satria, biar klimis dan kinclong (he..he..). Terus main-main dan ngegendong aku, agak siangan sekitar jam 11 ayah udah siap-siap pergi. Seringnya ke Masjid Al-A&#8217;zhom. Kan ayah juga punya amanah di DPD BKPRMI Kota Tangerang yang sekretariatnya memang di Masjid Raya kebanggaan Kota Tangerang itu. Lewat dzhuhur jam 2-an, ayah mengantar bunda dan aku mengaji. Ayah ngga&#8217; pernah nungguin Bunda dan aku ngaji, abis emang lama, kalo ditungguin ayah bisa lumutan dech. Ayah biasanya pulang dan langsung duduk manis didepan komputer. Sore menjelang maghrib ayah menjemputku, dan kadang langsung mampir ke rumah nenek sampai malam kalo pas ayah lagi ngga&#8217; ada acara. Kalo malam Ahadnya ada acara ya, ayah pasti langsung pulang ke rumah dan pergi lagi sampai malam.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Hari Ahad bagi kebanyakan orang mungkin hari libur dan waktunya bersantai ria. Namun tidak buat ayah, hari Ahad justru hari yang ngga&#8217; kalah padat dengan hari-hari kerjanya. Ya seminar lah, ada tatsqiflah, ada kajian lah, de..el..el gitu lah. Pulang abis dzuhur atau sore.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Duh&#8230; pusing kalo mikirin kesibukan ayah. Tapi ya itulah ayahku yang baik dan tampan (he..he..). Tapi aku bangga ko&#8217; sama ayahku. Ya Allah, semoga ayah senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan dalam segala kepenatan dan kesibukannya. Dan engkau meridhoinya atas segala amal baiknya, menjaganya, serta menyayanginya. Amiin. </div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/05/14/ayah-yang-sibuk/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rumahku Mengasyikkan</title>
		<link>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/05/01/hening/</link>
		<comments>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/05/01/hening/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2007 01:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/05/01/hening/</guid>
		<description><![CDATA[	Berbeda dengan rumah nenek yang lumayan rame karena penghuninya &#8216;cukup padat&#8217;. Rumahku lengang dan tenang. Jika di rumah nenek ada kakek, tante Ratna, om Ma&#8217;il dan om Qodri, maka di rumah mungil ini hanya ada Bunda dan Ayah. Keadaan ini membuat tidurku semakin nyaman, hi..hi..hi. Namun demikian, tantangan buatku adalah untuk bersabar melawan kebisingan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify">Berbeda dengan rumah nenek yang lumayan rame karena penghuninya &#8216;cukup padat&#8217;. Rumahku lengang dan tenang. Jika di rumah nenek ada kakek, tante Ratna, om Ma&#8217;il dan om Qodri, maka di rumah mungil ini hanya ada Bunda dan Ayah. Keadaan ini membuat tidurku semakin nyaman, hi..hi..hi. Namun demikian, tantangan buatku adalah untuk bersabar melawan kebisingan yang berasal dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Sebab, rumahku persis berhadapan dengan jalan utama yang memasuki kawasan perumahan ini.</p>
	<p align="justify">Rumah sering kali bertambah sepi kalau ayah harus pergi memenuhi panggilan amanah. Sehingga praktis hanya aku dan Bunda saja di rumah. Aku ngga&#8217; bersedih, karena justru membuatku semakin banyak waktu buat bermanja-manja dengan Bunda. Di samping itu, juga membuat aku merasa bahagia sekali saat-saat melihat kepulangan ayah. Yaah, kupikir ini adalah seni kehidupan yang akan membuatku belajar tentang kemandirian dan ketegaran.</p>
	<p align="justify">Biarpun rumahku mungil, namun terasa mengasyikkan. Cukup lengkap untuk kebutuhan sehari-hari baik buat ayah-bunda ataupun buatku. Insya Allah aku bersyukur. Di rumah ini aku juga menjadi punya lebih banyak waktu buat bermain dengan ayah. Setiap pagi ayah mengajakku menikmati udara dan sinar matahari pagi. Aku berjemur.. (he..he.., kaya orang kulon aja yach). Teman ayah bilang, berjemur itu akan membuat aku sehat. Soalnya dengan bantuan sinar ultraviolet dari matahari, zat-zat beracun dipermukaan kulit akan teroksidasi dan akhirnya akan keluar bersamaan dengan keluarnya keringat. Makanya aku rajin berjemur. Gitu loh.</p>
	<p align="justify">Biasanya setelah berjemur dan kulit-kulitku sudah terasa hangat, Bunda mengajakku untuk mandi air hangat. Aku disabuni, pake sampo, dan direndam dalam bak mandi biru yang nyaman. Ayah pun tak ketinggalan untuk membantu bunda memandikanku. Sehingga acara mandi pagiku menjadi momen yang meriah dan menyenangkan.</p>
	<p align="justify">Bertiga bersama Ayah dan Bunda pasti akan menjadi masa awal episode perjalanan hidupku yang menyenangkan. Semoga Allah menjaga kebersamaan ini dengan kasih dan ridho-Nya. Amiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/05/01/hening/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rumahku Syurgaku</title>
		<link>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/28/rumahku-syurgaku/</link>
		<comments>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/28/rumahku-syurgaku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2007 08:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/28/rumahku-syurgaku/</guid>
		<description><![CDATA[	Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Ayah dan Bunda berencana mengajakku pulang ke rumah &#8216;impian&#8217; yang selama ini sudah sangat aku rindukan. &quot;Kaya&#8217; apa ya rumahku..?&quot; begitu gumamku.  
	Tanpa terasa waktu sudah berjalan sepekan. Hari ini adalah hari terakhir yang ayah rencanakan untuk aku &#8216;transit&#8217; di rumah nenek pasca kelahiranku. Rumah nenek memang tidak terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify">Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Ayah dan Bunda berencana mengajakku pulang ke rumah &#8216;impian&#8217; yang selama ini sudah sangat aku rindukan. &quot;Kaya&#8217; apa ya rumahku..?&quot; begitu gumamku.  </p>
	<p align="justify">Tanpa terasa waktu sudah berjalan sepekan. Hari ini adalah hari terakhir yang ayah rencanakan untuk aku &#8216;transit&#8217; di rumah nenek pasca kelahiranku. Rumah nenek memang tidak terlalu besar. Cukup sederhana dengan beberapa kamar yang juga ditata dengan ringan dan apa adanya. Meski tidak terlalu besar, rumah nenek cukup untuk menampung ke enam anggota keluarganya. Tujuh di tambah ayah dan jadi delapan ditambah aku. Rumah yang sederhana itu berhawa sejuk dan tenang. </p>
	<p align="justify">Hari itu adalah hari Sabtu. Sejak pagi hari ayah sudah bergegas merapikan barang-barang dan pakaianku serta bunda, dan dikemasnya dalam beberapa tas besar. Beberapa bingkisan kado ayah masukkan kedalam tas tersendiri yang tidak kalah penuh. Aku berfikir&#8230; ayah dan bunda akan memberikan kejutan lagi buatku.</p>
	<p align="justify">Sore hari setelah orang-orang turun dari masjid selesai menunaikan sholat Ashar. Ayah menghampiriku yang sedang berbaring ditemani bunda. Bunda juga sudah rapi dan wangi, demikian pula aku. Aku sudah didandani dengan lengkap dan cantik.</p>
	<p align="justify">&quot;Ayo berangkat sekarang, Salwa ..&quot; Suara ayah menghampiriku. Sambil mencium kening dan pipiku ayah menggendongku keluar kamar. Aku memandanginya &quot;Duh, Ayah. Kita mau kemana ya?&quot; begitu gumamku. Setelah semuanya beres, ayah dan bunda berpamitan dengan nenek dan kakek, tante Ratna, om Qodri, juga om Ma&#8217;il. Mereka juga mencubit dan mencium gemas pipiku seraya perlahan melepasku. </p>
	<p align="justify">Ayah berangkat lebih dulu pakai Satria kesayangannya dengan mengangkut seabreg barang bawaan. Sedang aku dan bunda dengan ditemani Mbah dan nenek menggunakan kendaraan umum. Beberapa tetangga yang kebetulan berada diberanda rumahnya menyapaku &quot;.. Salwa mau pulang ya, ko&#8217; cepetan amat di tempat neneknya?&quot; </p>
	<p align="justify">Hanya sekitar 5 menit kendaraan yang kutumpangi menepi. Bunda mengajakku turun, mbah dan nenek mengikutinya dari belakang. Aku pun menyeberang jalan dengan hati-hati. Dari tepi jalan jantungku sudah berdegub kencang. Seraya terus berjalan aku melihat kiri dan kanan, hingga ayun langkah kaki bunda terasa kian melambat. Dan ayah sudah tiba duluan di tempat itu.</p>
	<p align="justify">Kulihat bangunannya lumayan tinggi namun sangat sederhana. Warna dindingnya kombinasi hijau dan kuning pudar. Sementara kusen pintu jendelanya berwarna coklat tua dengan kacanya yang juga gelap. Lantai rumah berwarna putih susu, berukuran 30x30 cm dan terawat bersih. Tepat di bagian depan terdapat pilar setinggi kira-kira 1 meter berhias beberapa tanaman hijau dalam pot-pot plastik berwarna coklat. Aku tertegun ..&quot;apakah ini istanaku?&quot;&nbsp;</p>
	<p align="justify">&quot;Selamat datang Salwa&#8230;, ini adalah rumah Salwa. Ayo silahkan masuk.&quot; Suara ayah memecah ketertegunanku. Bola mataku memancar jeli dan riang. Riuh suara Bunda, mbah dan nenek juga mengiringi moment penting aku memasuki rumah yang didominasi warna hijau ini. Ayah mengajakku masuk, bersama bunda aku menelusuri seluruh sudut ruangan rumah mungil tersebut hingga kamar mandi dan dapur. Rumahnya bersih dan tertata rapi meski dengan segala kesederhanaannya. </p>
	<p align="justify">&quot;Rumah ini menyejukan,&quot; dan aku senang sekali. Aku sudah membayangkan.. pasti akan banyak sejarah dan cerita indah terlahir dari tempat yang baik ini. &quot;Semoga rumah ini akan menjadi seindah istana di syurga&quot;&#8230; amiin.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/28/rumahku-syurgaku/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Keluarga yang Hangat</title>
		<link>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/22/keluarga-yang-hangat/</link>
		<comments>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/22/keluarga-yang-hangat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2007 08:36:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/22/keluarga-yang-hangat/</guid>
		<description><![CDATA[	Ini duniaku yang baru, bagiku sungguh luar biasa. Rasa rinduku yang membuncah saat detik-detik terakhir transformasi kehidupanku kini mulai terjawab. Tidak hanya ayah dan bunda saja yang kutemui, namun lebih dari itu banyak orang yang bersyukur menyambut kehadiranku.
	&nbsp;
	Siang ini pun, aku sudah ketemu kakek dan nenek. Ada juga tante Ratna yang cakep, om Qodri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify">Ini duniaku yang baru, bagiku sungguh luar biasa. Rasa rinduku yang membuncah saat detik-detik terakhir transformasi kehidupanku kini mulai terjawab. Tidak hanya ayah dan bunda saja yang kutemui, namun lebih dari itu banyak orang yang bersyukur menyambut kehadiranku.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Siang ini pun, aku sudah ketemu kakek dan nenek. Ada juga tante Ratna yang cakep, om Qodri yang item manis, juga ada om Ma&#8217;il yang super cool. Aktivitas kakek saat ini lebih banyak di rumah, selain beliau memang sudah melewati usia pensiun, kakek juga diberi kepercayaan oleh warga menjadi Ketua RT. Sedangkan nenek, orangnya kreatif dan enerjik. Nenek suka bikin makanan enak untuk dijual dipasar.&nbsp;</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Nah, kalo tante Ratna, orangnya rajin baik dan cantik kaya&#8217; bunda. Namanya aja kaka&#8217;-adek, ya ada mirip-mirip dikit lah. Seminggu sebelum aku lahir, tante Ratna wisudaan jadi Sarjana. Ciee&#8230; Salwa ucapin selamat yach. Aku sempet ikut dateng bareng bunda ke acara wisudanya. Cuma aku masih sembunyi di perut bunda. Terus&#8230;, om Ma&#8217;il. Sekarang dia bekerja menjadi abdi masyarakat di Jakarta. Profesinya sebagai &#8216;fire-man&#8217;, atau petugas pemadam kebakaran. Posturnya yang jangkung cocok banget buat tugas nyemprot api yang sering kali membumbung tinggi. Yang terakhir adalah om Qodri. Karena suka maen futsal dan layang-layang makanya mukanya jadi item gosong. Om Qodri juga jago di sekolah, dia rutin nyabet juara 1 di kelasnya. Moga aja Salwa ntar kalo sudah sekolah juga jadi juara. Doa&#8217;in ya..</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Pokoknya siang itu siang yang surprise, semuanya sibuk berkenalan wajah denganku. Aku mencoba menghafalnya. Apalagi aku adalah cucu&#8217; pertama dari nenek sekaligus keponakan pertama yang ada dirumah itu. Bahkan aku adalah cicit pertama dari mbah uyut aku yang ada di bogor. Seneng banget rasanya jadi orang yang spesial. <img border="0" title="emoticon" alt="emoticon" src="http://sduniabaru.blogsome.com/wp-content/plugins/Wysi-Wordpress/plugins/emotions/images/tongue.gif" /></div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Ternyata kejutannya belum selesai, menjelang sore hari, mbah juga tiba. Mbah baru dateng dari Cilegon. Sebetulnya mbah sudah nemenin bunda nungguni aku sejak setengah bulan sebelum kelahiranku. Gara-gara aku ga &#8216;nongol-nongol&#8217; embah nyempetin maen ke rumah ua, kaka&#8217;nya ayah, di Cilegon. Oiya, kalo sama orang tua bunda aku panggilnya kakek ma nenek, sedang kalo sama ibunya ayah aku panggilnya mbah. Sayangnya ayahnya ayah sudah meninggal sejak ayah masih kecil. Jadi aku cuma punya Mbah Putri karena Mbah Kakung-nya sudah tiada.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Mbah tiba pukul 3 sore-an. Begitu sampe rumah nenek, Mbah putri langsung nyerbu dan menciumi aku. Mbah pasti bahagia banget sebagaimana bahagianya aku. Dan sama seperti statusku dikeluarga nenek, buat mbah aku adalah cucu pertama yang sudah sangat lama ditunggu-tunggu. </div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Semoga dunia baruku adalah dunia-dunia yang indah dan membahagiakan. Dunia yang menjadi jalan pertemuan dengan Dzat yang pasti lebih aku rindukan di atas segalanya. Dzat yang menciptakanku dan memberiku kehidupan.&nbsp;</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/22/keluarga-yang-hangat/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Nenek</title>
		<link>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/22/rumah-nenek/</link>
		<comments>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/22/rumah-nenek/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2007 04:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/22/rumah-nenek/</guid>
		<description><![CDATA[	Ayah kulihat sibuk mondar-mandir mengurus adminsitrasi dan pembayaran perawatan bunda dan aku. Ternyata hari ini hari terakhir aku dirawat di RS. Sari Asih, tempat yang paling bersejarah dalam perjalanan hidupku. Berarti, hari ini adalah hari perpisahanku dengan lingkungan yang pertama kali aku kenal. Ada sedikit rasa sedih berpisah dengan suster-suster yang selalu sabar merawat aku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify">Ayah kulihat sibuk mondar-mandir mengurus adminsitrasi dan pembayaran perawatan bunda dan aku. Ternyata hari ini hari terakhir aku dirawat di RS. Sari Asih, tempat yang paling bersejarah dalam perjalanan hidupku. Berarti, hari ini adalah hari perpisahanku dengan lingkungan yang pertama kali aku kenal. Ada sedikit rasa sedih berpisah dengan suster-suster yang selalu sabar merawat aku. Aku pasti kangen mereka. Tapi entah apakah suatu saat aku bisa bertemu mereka lagi, dan kalaupun ketemu juga mungkin mereka sudah tidak mengenalku lagi.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Aku juga harus berpisah dengan teman-temanku yang sudah 4 hari ini bersamaku, biar pun mereka suka nyebelin karena cengeng, namun mereka adalah kawan tinggalku yang membuat aku tidak kesepian selama di rumah sakit ini. Tau dech, apa ntar bisa saling kenal ya? Hari ini mestinya ada kawanku yang pulang bersamaan dengan jadwal kepulanganku. Namun, karena ada perawatan tambahan dia harus menunda kepulangannya. Dokter bilang dia kekurangan oksigen sehingga harus kembali dikasih oksigen dan masuk ruang inkubator. Oiya, orangtuanya bernama ko&#8217; Indra dan ci Eel. Pasangan chinesse yang menjadi temen ayahku selama ada di rumah sakit ini. Mereka bertemu akrap saat menunggu bunda di operasi. Kebetulan operasi bunda dilakukan sesaat setelah ci Eel dioperasi untuk anak keduanya, caessar juga. </div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Selama menunggu keduanya sharing pengalaman, tepatnya sih ayah yang banyak belajar darinya, sehingga ayah dan ko&#8217; Indra tampak sudah seperti kawan lama. Ko&#8217; Indra juga tidak segan-segan kasih saran dan tukar pengalaman ke ayah untuk menjadi ayah siaga (tentu versi orang China..he..he..). Iya, sampai aku hendak dianter suster ke lobi utama rumah sakit ko&#8217; Indra masih pusing bolak-balik ngurusin anaknya. Semoga cepet baikan dech. Biar sama-sama bisa cepet pulang. Aku senang, meski etnis Ayah dan ko Indra tidak sama, tapi mereka sangat akrab. </div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Suster sudah mengganti bajuku dengan baju spesial yang telah ayah siapkan dari rumah. Baju bayi pertamaku yang aku pake&#8217;. Bagus banget, apalagi ada selimut cantik yang turut membungkusku. Bunda dan nenek sudah stand by bersamaku berjalan menuju lobi utama. Sementara ayah sudah duluan menyiapkan kendaraan.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Mataku memandang lurus menembus kaca lobi utama. Terang dan penuh hiruk pikuk. Benda aneh berseliweran dari arah yang saling berlawanan. Ada yang berwarna perak, merah, hijau putih, juga hitam. Orang juga berlalu lalang dengan beragam kesibukan dan kepentingan. Semuanya nampak sibuk sesibuk suster-suster yang ada di rumah sakit ini.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Wajah ayah yang ganteng menyunggingkan senyum dari balik pintu kaca. Ternyata ayah membawakan untukku satu dari benda aneh yang sedari tadi kulihat berseliweran. Mmm, ini namanya mobil. Dalam gendongan nenek aku memasukinya dengan perlahan. Bunda menyusul tidak lama kemudian, sedang ayah masih sibuk memasukkan barang-barang bunda dan aku kedalam bagasi mobil.</div>
	<div align="justify">&nbsp;</div>
	<div align="justify">Setelah semuanya siap, perlahan kendaraan itu mulai berjalan. Aku takjub. Bangunan tinggi, keramaian, hilir mudik kendaraan, lalu lalang orang dengan berbagai kesibukan aku lihat selama perjalanan. Setelah kira-kira seperempat jam, sampailah disebuah tempat yang mungil. Ada kakek, tante Ratna, om Qodri, dan beberapa tetangga sudah bersiap menyambut aku. Mereka semua berhamburan menyergapku dengan wajah yang sumringah. Semuanya tampak gembira menyambut kedatanganku. Alhamdulillah&#8230;, aku jadi bahagia. Ternyata dunia yang aku takutkan ini tidak seperti bayanganku sebelumnya. Semoga. </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/22/rumah-nenek/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia, Aku Datang!</title>
		<link>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/18/dunia-aku-datang/</link>
		<comments>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/18/dunia-aku-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2007 03:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/18/dunia-aku-datang/</guid>
		<description><![CDATA[	Aku coba menerawang, memandang ke langit-langit ruangan. Berusaha memahami apa yang saat ini aku lihat. Jauh berbeda rasanya saat beberapa waktu sebelumnya aku berada di rahim bunda. Ruang dimensi yang begitu luas jika dibandingkan dengan ruang rahim bunda yang hanya cukup untuk ukuran tubuhku, itu pun aku harus menekukkan kaki dan tanganku yang mungil.
	Dunia baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify">Aku coba menerawang, memandang ke langit-langit ruangan. Berusaha memahami apa yang saat ini aku lihat. Jauh berbeda rasanya saat beberapa waktu sebelumnya aku berada di rahim bunda. Ruang dimensi yang begitu luas jika dibandingkan dengan ruang rahim bunda yang hanya cukup untuk ukuran tubuhku, itu pun aku harus menekukkan kaki dan tanganku yang mungil.</p>
	<p align="justify">Dunia baru ini memang sangat berbeda, jauh lebih luas, jauh lebih kompleks, jauh lebih ramai, jauh lebih seru (mungkin?) atau juga mungkin jauh lebih menyeramkan. Aku masih menerawang memandang langit-langit ruangan. Sementara di luar ruangan tempat aku berbaring hilir mudik terdengar langkah sepatu ber-hak tinggi yang cukup nyaring. Ah, mungkin itu suara langkah kaki suster yang merawatku.</p>
	<p align="justify">Cahaya di balik jendela sudah mulai berubah menguning kemerahan. Barangkali ini yang dinamakan senja hari. Suara langkah kaki di sebelah luar ruangan terasa semakin ramai. Banyak suara bersahut-sahutan, saling menimpali dan kadang terdengar gelak tawa dan senyum simpul. Aku mengalihkan pandanganku dari langit-langit ke jendela kaca yang memisahkan ruanganku dan lobi ruang perawatan bunda. Kulihat banyak wajah-wajah yang selalu berbeda bergantian menampakkan diri di balik kaca. Mereka melihat ke arahku dan sekelilingku yang semuanya masih seusiaku.</p>
	<p align="justify">Aku terhenyak, di sekelilingku berjajar rapi bayi-bayi mungil yang lucu (pastinya aku juga donk..he..he..). Meski aku dan mereka dilahirkan dihari yang sama atau setidaknya di hari yang tak terpaut jauh, tak satupun yang memiliki kemiripan satu sama lain. Dari rupanya, raut wajah, kulitnya, rambutnya, berat badannya, duh hampir semuanya berbeda. Sama persis dengan wajah-wajah yang nampak dibalik kaca jendela, tidak ada yang sama.</p>
	<p align="justify">Sayup-sayup terdengar lantunan merdu yang dini hari tadi kudengar dari mulut ayah. Kalimatnya sama, dan sama indahnya. Kalimat yang kutahu sebagai seruan panggilan untuk segera melaksanakan sholat. Beberapa langkah kudengar melangkah searah, sepertinya mendekati mushola.</p>
	<p align="justify">Mataku berkedip, dan kembali menerawang ke langit-langit ruangan. Bagiku dunia baru yang ada di depan mataku penuh dengan warna, misteri, kesempatan dan ujian. Perasaanku gamang. Apakah aku bisa menjalani kehidupan baruku ini ya? Sepertinya.. ko&#8217; menyeramkan? Ah, biarlah. Apapun kenyataannya aku harus berani melangkah.Ada ayah dan bunda ini. Aku yakin, mereka pasti akan mendampingiku sepenuh hati untuk aku belajar mengenal dunia ini.  </p>
	<p align="justify">Aku melirik ke kanan dan ke kiri, teman-temanku sudah mulai rewel. Suster yang setengah jam yang lalu sudah berada diruangan mulai sibuk dengan ulah temen-temen yang bertambah aneh. Pipis, ee&#8217; dan nangis melengking. Ah, sebaiknya aku bobo&#8217; biar ntar fresh, karena sebentar lagi aku pasti mau dianter ke tempat ruang perawatan bunda, dan disana pasti ada ayah. Saat yang menyenangkan. Emmh, met bobo&#8217; ya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sduniabaru.blogsome.com/2007/04/18/dunia-aku-datang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
